RSS

Video Balun: Mendefinisikan Kembali Soal Jarak

Video Balun : Mendefinisikan Kembali Jarak

 

Jika akan dipakai pada jarak maksimal, maka ada baiknya apabila kita meninjau kembali soal jarak. Hal ini berkaitan dengan tahap CDR, sehingga tingkat keberhasilannya bisa terukur. Baiklah kita mulai dengan melihat beberapa contoh desain di bawah ini.
Desain A
Desain A memperlihatkan konsep dasar dari aplikasi video balun kombinasi “aktif-aktif”. Dengan menggunakan tipe produk yang dimaksud, maka jarak yang diklaim bisa mencapai 2000m (2Km). Perhatikanlah, bahwa jarak ini adalah jarak elektrik antara output camera dengan input DVR. Jadi, panjang kabel coaxial dihitung juga. Jarak sejauh ini dimungkinkan, karena TTA-111VH sudah ditambahkan peredam interferensi (extra interference rejection). Sebagaimana diketahui, faktor interferensi inilah yang kerap dituding sebagai biang keladi ganngguan camera dan berkurangnya jarak. Namun, ada beberapa “kritik” terhadap Desain A ini, yaitu:
1. Kabel UTP tidak “dieksploitasi” secara maksimal, karena kita hanya memakai 1 pair saja.
2. Satu camera memerlukan dua unit video balun aktif.
3. Penempatan balun agak sulit ditentukan.
4. Pemakaian adaptor satu balun satu adaptor.
(atau mungkin anda bisa menambahkannya)
Jika kendala teknis di atas bisa diatasi, maka dengan mengabaikan cost, kita akan memperoleh satu sistem yang bekerja baik pada jarak maksimalnya. Hanya dari segi budget, metoda di atas memerlukan biaya mahal.

Desain B



Berbeda dengan desain A, maka desain B memperlihatkan alternatif yang menurut kami lebih baik, setidaknya dari segi pemanfaatan kabel UTP. Di sini balun TTA-111VT di -“pool” dulu di satu tempat dan hanya di-supply oleh satu buah adaptor saja. Pada sisi kanan bisa dipasang TTA-414VR untuk menggantikan 4 buah receiver 1 channel. Dengan cara ini, kabel UTP dapat dipakai secara optimal. Namun, trade off-nya adalah jaraknya akan secara signifikan, yaitu 1500m saja. Sekali lagi untuk kehati-hatian, jarak ini adalah panjang total kabel yang digunakan (Coaxial plus UTP) atau dengan kata lain jarak dari output camera ke input DVR.

Konfigurasi di bawah ini semoga bisa memberikan pemahaman yang baik soal jarak yang dimaksud.

Desain C

Setelah diketahui yang dimaksud dengan jarak, maka bagaimana sebaiknya? Jika kita bekerja dengan banyak camera, katakanlah sampai dengan 32 titik, maka yang pertama kali harus diketahui adalah letak (titik) cameranya seperti apa. Lalu tentukanlah, apakah kita akan “mengirim” camera satu demi satu ke control room atau akan “mengangkut” 4 camera sekaligus. Jika tidak ada jalan lain kecuali “mengirimkan” camera satu per satu, maka Desain A-lah yang terpaksa dipilih. Namun, jika cara “mengangkut” 4 camera sekaligus bisa diwujudkan, maka desain B atau C kami pandang lebih optimal. Nah, apakah anda bisa membedakannya?

 

sumber : http://tanyaalarm.blogspot.com

 

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: