RSS

Special Case: Pilih Mana, Video Balun atau Coaxial?

Pilih Mana: Video Balun atau Coaxial?

Dalam satu kesempatan kami ditanya mengenai rencana instalasi camera dengan panjang kabel 1 kilometer (1000m) dengan pertanyaan sederhana: perlukah video amplifier? Terus terang kami sulit untuk menjawabnya secara langsung. Sebagaimana mafhum diketahui, bahwa instalasi kabel panjang berpotensi untuk mengundang masalah. Masalah yang paling ditakuti adalah gangguan gambar berupa noise dan interferensi. Penyebab utama timbulnya masalah tersebut jelas dari panjangnya kabel, karena dengan semakin panjang, maka sinyal akan semakin lemah. Akibatnya, perbandingan signal-to-noise (S per N) yang diterima oleh DVR akan kecil, sehingga rentan terhadap gangguan dari luar. Lantas, apa hubungannya dengan pertanyaan tadi? Perlukah video amplifier? Jawabannya dilematis. Di satu sisi, sinyal memang dikuatkan, namun di sisi lain -jangan lupa- noise pun akan dikuatkan pula. Jadi, alih-alih memperoleh gambar yang bagus, namun kenyataannya pada beberapa kasus, menambah video amplifier justru membuat gambar malah “bertambah hancur”. Apakah anda pernah mengalami hal ini?

Nah, pada posting kali ini, kami akan coba bahas plus minus dari video amplifier ini. Sebagai pembanding kami juga akan coba mencari alternatif solusi lainnya, yaitu dengan video balun. Manakah diantara keduanya yang lebih suitable?

Kilas Balik
Sekadar penyegaran, kami gambarkan kembali perbedaan antara sistem coaxial dengan video balun. Tujuannya agar kita dapat menganalisa dimana kira-kira pokok masalahnya apabila nanti gambar yang dihasilkan tidak sempurna. Perhatikanlah gambar di bawah ini:

Pada gambar di atas terlihat, bahwa untuk jarak 1000m sistem Coaxial memerlukan sebuah Video Amplifier untuk mem-boost signal. Pertanyaannya, dimanakah posisi video amplifier yang ideal? Apakah di dekat camera, di tengah-tengah atau di dekat DVR? Mari kita lihat analisanya nanti. Perhatikan pula bahwa L1 dan L2 perlu dimasukkan ke dalam pertimbangan cost, karena adanya penambahan jumlah connector BNC. L1 dan L2 kami masukkan pula ke dalam parameter analisa, mengingat di jalur inilah biasanya masalah timbul.

Pada sistem video balun terdapat 3 jalur yang harus diwaspadai, yaitu L1, L2 dan L3. Apa sebab? Karena balun bisa saja diletakkan berjauhan dengan camera ataupun DVR. Oleh sebab itu -selain L2- panjang coaxial L1 dan atau L3 perlu juga dimasukkan ke dalam analisa awal.

Nah, bagaimanakah implementasi di lapangan? Sebelum memutuskan memilih salah satu dari kedua sistem tersebut, ada beberapa faktor yang harus dimasukkan ke dalam pertimbangan, yaitu:

1. Jumlah camera.
2. Kondisi jalur lintasan kabel.
3. Kemudahan troubleshooting dan  maintenance.
4. Cost.

Perihal cost kami letakkan pada point terakhir agar nantinya bisa diketahui apakah secara overall sistem Balun lebih murah ketimbang Coax atau malah sebaliknya. Perlu diketahui pula, bahwa kita tidak bisa memukul rata dengan meng-klaim bahwa satu sistem lebih unggul daripada yang lain, sebab hal itu sangat tergantung dari kondisi di lapangan. Oleh sebab itulah diperlukan analisa awal terlebih dahulu dengan melibatkan 4 point di atas. Bagaimana? Berikut ini adalah sebagian dari argumentasi kami secara keseluruhan.

1. Jumlah Camera
Jumlah camera beserta letaknya merupakan faktor utama dalam menentukan apakah kita akan memakai sistem balun atau tetap mempertahankan coaxial. Hal ini berkaitan dengan pemanfaatan “pair” kabel UTP. Jika hanya satu pair saja yang bisa dimanfaatkan (artinya satu camera, satu kabel UTP), maka secara ekonomis efektivitas sistem balun ini masih tidak terasa, malah terkesan boros. Tetapi dari sisi teknis hal itu akan membantu, sebab setidaknya kita masih punya “pair” cadangan.  Melihat kondisi seperti itu, jika memungkinkan, kita sebaiknya memanfaatkan semua “pair” yang ada pada kabel UTP seperti ilustrasi di bawah ini.

Pada ilustrasi di atas terlihat, bahwa kita hanya perlu satu tarikan kabel UTP untuk mengangkut 4 Camera dari titik berbeda ke DVR di ruang control. Oleh karena jaraknya jauh, katakanlah 1000m, maka setidaknya kita memerlukan tiga titik sambungan (joint), karena 1 rol kabel UTP rata-rata memiliki panjang 1,000 feet (sekitar 305m). Camera di-“parkir” dulu di Video Balun 4 Channel dan dari sana “diberangkatkan” ke ruang control. Sayangnya, produk balun 4 Channel ini hanya tersedia tipe yang passive saja, sehingga apabila dikehendaki jarak yang lebih jauh lagi, maka kita harus memakai tipe active 1 Channel.

Sekarang bandingkan dengan sistem Coaxial pada gambar di bawahnya. Pada sistem ini kita harus menarik empat kabel Coaxial (semisal RG-6 atau tipe lainnya) ke ruang control. Secara ekonomi, empat kabel Coax tentu lebih mahal ketimbang satu kabel UTP, bukan? Secara teknis, menarik empat kabel Coax pun terasa “lebih berat” ketimbang UTP. Sementara itu, dari potensi gangguan, maka kabel Coax lebih rentan (mudah terganggu) ketimbang UTP, apalagi jika  kita sudah “bermain” dengan Video Amplifier.

Lalu, apa arti semua ini? Baiklah, kami telah membuat estimasi kasar mengenai cost dari kedua sistem ini, walau tadinya kami akan menempatkan soal ini di akhir pembahasan. Alasannya, bisa jadi diantara pembaca ada yang ingin mengetahui soal ini terlebih dulu, bukan?

2. Kondisi Jalur Lintasan Kabel
Kiranya perlu diwaspadai, bahwa instalasi kabel CCTV outdoor sangat rentan terhadap gangguan, terlebih jika jalur kabel melintasi area tegangan tinggi untuk mesin-mesin pabrik. Jangan sekali-kali menumpangkan kabel CCTV -baik UTP maupun Coaxial- dala cable tray elektrik, karena selain menyebabkan interferensi, juga hal ini sangat sulit saat melakukan maintenance. Pilihlah jalur kabel yang lebih “selamat”, kendati harus memutar agak jauh. Oleh sebab itulah gambar cable route menjadi penting, karena sangat membantu dalam meng-estimasi panjang kabel secara keseluruhan. Jika daerah berbahaya ini sulit dihindari, maka pertimbangkanlah untuk memakai sistem Balun ketimbang Coaxial dan video amplifier.

3. Kemudahan dalam Troubleshooting dan Maintenance
Faktor ini jarang diantisipasi, sehingga saat sistem sudah running (dan walhasil ternyata banyak gangguan!), akhirnya cost untuk menambah alat ini dan itu malah menjadi tinggi. Alih-alih menekan cost, namun kenyataannya malah kebalikannya. Alat ini dan itu yang dimaksud, misalnya Ground Loop Isolator, AC Line Filter atau yang paling menjengkelkan adalah mengubah jalur kabel.

4. Cost
Setelah semua dianalisa, maka jatuhkanlah pilihan berdasarkan resiko yang paling kecil, baik dari sisi cost maupun dari segi teknis.

Kesimpulan
Selama cost memungkinkan, maka untuk jarak di atas 300m dengan jumlah camera yang banyak, menurut hemat kami video balun lebih layak dipertimbangkan. Hal ini disebabkan video balun memiliki daya tolak terhadap noise dan interferensi  yang lebih baik ketimbang  video amplifier. Bagaimana dengan pengalaman anda?

 

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: