RSS

PC Base DVR

PC Based DVR (DVR Card)

Menyambung tulisan mengenai Standalone DVR, maka kali ini akan dijelaskan sekilas tentang DVR Card atau PC-Based DVR, apa kelebihannya dan apa pula kekurangannya.
DVR Card pada hari ini semakin populer digunakan sebagai video surveillance dan recoder  dikarenakan feature-nya yang boleh dibilang sangat bagus, mulai dari kemudahan playback, searching, backup data, sampai dengan access jarak jauh dari Internet. Apalagi dengan semakin “murahnya” tarif Speedy, makin banyak orang yang memasang DVR jenis ini hanya untuk sekedar melihat kondisi pabrik, gudang, hotel ataupun kantor mereka dari rumah. Peminatnyapun semakin hari semakin banyak, mulai dari rumah tinggal biasa, hotel, gudang, tempat pendidikan dan banyak lagi. Satu alasan lain dipilihnya DVR model Card ini adalah dari sisi kemudahan dalam hal instalasi dan setting. Pengguna komputer tentu saja akan lebih nyaman bekerja dengannya. Sementara itu, “kekurangannya” adalah user memerlukan sebuah PC yang memadai untuk menjalankannya dan ini bagi sebagian orang masih merupakan investasi mahal.

DVR Card terdiri dari satu card yang ditancap pada slot PCI pada motherboard. Pada produk terbaru bahkan ada yang menggunakan slot PCI-Xpress, dimana transfer datanya dikabarkan bisa lebih cepat. Kabel penyambung ke camera dikenal dengan istilah “pig tail” (sekalipun bentuknya lebih mirip gurita) dan sudah disediakan oleh pabrik pembuatnya.  Demikian pula dengan CD software yang juga sudah tersedia dan tinggal di-install pada PC. Kapasitas DVR dimulai dari yang 4 Channel, 9 Channel dan 16 Channel. Bahkan, di beberapa produk ada yang bisa menampung sampai 32 Channel dalam satu card PCI-Xpress! Data rekaman CCTV disimpan  dalam hard disk PC sendiri yang berukuran mulai dari 250GB sampai dengan beberapa Terabyte (1TB=1000GB). Untuk aplikasi rumah tinggal, hard disk 80GB – 250GB (jika masih ada) sebetulnya sudah memadai untuk perekaman 1 minggu pada fps rendah. Hanya sayangnya hard disk ukuran “kecil” saat ini sudah lenyap di pasaran. kecuali yang “second”.

Satu parameter DVR yang penting diketahui adalah soal frame rate. Frame rate sendiri adalah kecepatan gerakan gambar yang dinyatakan dalam fps (frame per second).  Jadi nilai fps yang dicantumkan dalam spesifikasi DVR menyatakan berapa kecepatan total tampilan gambar saat Live ataupun saat Record/Playback .

Contoh: Pada DVR Card merk CNB (Korea) tercantum tipe BDE-2424. Artinya card tersebut memiliki 8 Channel (E=eight), 240fps Live dan 240fps Record. Parameter 240fps adalah untuk NTSC,sedangkan untuk PAL hanya menjadi 200fps saja. Jika angka 200 ini dibagikan ke 8 Channel, maka masing-masing Channel akan mendapat “jatah” 25fps. Frame rate sebesar ini sudah cukup untuk merekam acara balapan Formula-1 secara sempurna. Gerakan mobil akan terlihat halus tanpa hambatan. Dalam bahasa teknisi ini disebut dengan istilah Real Time.

Lain halnya dengan DVR card yang memiliki spesifikasi 120fps untuk 16 Channel. Maka setiap channel akan memperoleh jatah 120fps/16 = 7.5 fps saja! Frame rate sebesar ini menjadikan acara balap mobil F-1 menjadi tidak seru lagi untuk dilihat ataupun direkam, sebab gerakan mobil balap akan terlihat patah-patah (tersendat-sendat).

Namun untungnya dalam aplikasi CCTV, DVR tidak digunakan untuk merekam acara-acara TV seperti balap mobil atau film serial kartun kegemaran anak-anak, melainkan digunakan untuk merekam gerakan orang atau keluar masuk kendaraan.

Jadi dengan fps yang kecil, katakanlah 1 fps sampai dengan 5fps, sebenarnya itupun sudah cukup. Dalam kecepatan serendah ini gerak-gerik orang ataupun laju kendaraan di tempat parkir dapat tertangkap dengan baik dan bisa dijadikan sebagai alat bukti kejahatan.

Apa arti semua ini? Mudah saja! Semakin besar fps, akan semakin “rakus” hard disk. Oleh sebab itu, fps yang kecil  menjadikan DVR mampu merekam selama berhari-hari secara non-stop.

Parameter lainnya yang perlu diketahui juga adalah metode kompresi video yang dipakai. Saat ini dikenal ada 3 mode kompresi, yaitu: MJPEG, MPEG-4 dan H.264. Apa kelebihan nya masing-masing? Nantikan bahasan ini pada posting berikutnya. Insya Allah.

 

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: