RSS

Mengapa DVR Jadi Tidak Bisa Merekam? (Bagian 1)

Mengapa DVR Jadi Tidak Bisa Merekam? (Bagian 1)

Pernahkah anda mengalami hal yang menjengkelkan ini? Saat diperlukan, tiba-tiba DVR kita tidak berisi rekaman apa-apa. Lebih parah lagi tombol-tombolnyapun malah jadi macet, termasuk Remote Control pada DVR Standalone. Persoalan klasik ini kerap menimpa pada DVR setelah sekian lama pemakaian dan tentu saja sangat mengganggu. Terlebih lagi jika ada kejadian yang perlu dilihat sebagai “babuk” (barang bukti) kepolisian,   namun rekamannya tidak ada alias blank. Lalu, bagaimanakah kiat agar DVR kita selalu dalam kondisi siap pakai? Berikut ini opini kami.

1. Kenali Dulu Sumber Masalahnya
Panas yang berlebihan kami tuding pertama kali sebagai penyebab utama masalah ini. Bayangkan saja, DVR umumnya dioperasikan selama 24 jam non-stop siang dan malam. Jika sudah begini, maka kualitas dari komponen penunjang merupakan faktor penentu “survive” atau tidaknya suatu produk DVR, baik yang Standalone maupun PC Base. 

Sumber panas DVR Standalone bisa berasal dari:
1. Bagian Power Supply, khususnya yang ada di dalam casing (built-in).
2. Komponen pada Mainboard, khususnya IC Voltage Regulator, IC Prosesor dan IC Codec.
3. Hard Disk.

Nah, dua atau tiga sumber panas inilah yang secara kontiyu “menyumbang” thermal di dalam casing DVR. Kontributor panas terbesar dipegang oleh Hard Disk, disusul oleh IC Prosesor dan bagian Power Supply. Khusus untuk hard disk, kami telah bahas uraiannya di sini. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika pada DVR Standalone selalu terpasang kipas angin kecil (fan), baik di bagian belakang ataupun di sisi kiri-kanan casing. Jumlahnya kebanyakan hanya satu, jarang dijumpai yang dua apalagi tiga. Anehnya, pihak pabrikan seolah-olah menyepelekan soal isu thermal ini. Buktinya, pada beberapa merk DVR Standalone pemasangan fan ini terkesan dilakukan “ala kadarnya”, bahkan ada yang tanpa fan samasekali! Selain ukurannya kecil, posisinyapun tidak signifikan dalam upaya membuang panas ke luar. Dengan mengabaikan model dan jumlah blade,  fan berukuran kecil umumnya memiliki daya hisap dan hembus yang lemah. Apalagi jika dipasang hanya satu dan letaknyapun berjauhan dari ketiga sumber panas tadi, maka kecepatan maupun daya hisapnya menjadi tidak efektif. Pernahkah anda memperhatikan dengan seksama kondisi seperti ini?

Jika kami ditanya, dimanakah pemasangan fan yang ideal untuk DVR Standalone? Maka kami jawab :
1. Tepat di atas prosesor (seperti pada prosesor PC).
2. Tepat di atas atau di bawah Hard Disk (dengan ventilasi yang langsung).
3. Tepat di dekat Power Supply (jika power supply-nya ada di dalam casing).

Hanya saja kami harus realistis dalam masalah ini, sebab:
1. Memasang banyak fan akan menaikkan ongkos produksi yang tentu saja berimbas pada harga DVR.
2. Fan menimbulkan kebisingan yang cukup sangat mengganggu.
3. Sekecil apapun, fan tetap akan menyerap daya. Makin banyak jumlahnya, maka daya yang diperlukan akan semakin besar. Artinya, kapasitas power supply mesti ditambah dan sekali lagi ini akan menaikkan ongkos produksi.

Jadi, jangan protes apabila DVR kita hanya dibekali dengan fan yang “ala kadarnya”, bahkan yang lebih “gila” tanpa fan sama sekali! Fan yang efektif bisa diketahui dari ukuran, jenis blade dan penempatannya. Selain itu ada yang ketinggalan, yaitu parameter rpm (revolutions-per-minute). Makin cepat rpm, tentunya makin baik, karena hembusan fan akan makin kuat. Ukuran fan minimal harus sedang dan berbahan kokoh, jangan yang kecil dan lembek. Bentuk blade juga memengaruhi. Ada yang banyak, tipis dan melengkung, adapula yang renggang, tebal dan lurus. Namun, untuk soal teknis ini biarkanlah para insinyur yang memikirkannya. Apa yang bisa kita lakukan hanyalah sebatas menilai apakah fan ini sudah efektif atau belum. Lalu, perlukah kita memasang fan tambahan?

Bagaimana dengan hard disk? Menurut kami justru hard disk inilah yang semestinya diberi cooling fan. Cuma sekali lagi, pabrikan seolah-olah tidak menaruh perhatian pada soal ini. Hal ini terlihat dari ukuran casing DVR yang umumnya sempit, sehingga tidak menyisakan ruang bagi hard disk untuk ditambahkan fan. Padahal dalam PC, penambahan fan pada hard disk ini bukanlah sesuatu hal yang baru, bahkan diyakini dapat meningkatkan kinerja dan kestabilan harddisk. Nah, apalagi untuk DVR yang kerja hard disknya jauh lebih berat ketimbang PC, maka logikanya penambahan fan ini mestinya menjadi isu penting, bukan?

Demikian pula soal ventilasi. Ventilasi pada Standalone DVR umumnya tidak berada tepat di atas ataupun di bawah sumber panas (misalnya hard disk), melainkan di belakang atau di pinggir. Ini bisa menimbulkan persoalan serius. Saat casing ditutup, jarak hard disk dengan penutup casing ataspun terbilang sempit, bahkan nyaris tidak meninggalkan celah. Ada pula DVR yang jarak antara hard disk dengan mainboard-nya sangat dekat. Jika sudah demikian,  DVR seolah-olah bagaikan sebuah “oven”. Jadi, tanpa ventilasi dan fan yang baik, jangan heran jika satu saat DVR akan “ngadat”, seakan-akan tidak merekam

Menghadapi situasi ini, cobalah periksa apakah memungkinkan jika kita menambahkan extra fan di dalam casing? Jika mungkin tambahkanlah fan kecil 12VDC di atas hard disk dengan bantuan double-tape (isolasi bolak-balik) atau belilah hard disk cooler. Carilah sumber 12VDC yang “nganggur”. Jika tidak mungkin cobalah di lokasi lainnya, namun tetap di dalam casing. Tujuannya adalah untuk membuyarkan “panas dalam” yang tidak terhisap oleh fan utama.

Contoh Cooling Fan DC 12V

Apabila di dalam casing sudah demikian sempit (dan memang kebanyakannya begitu!), maka carilah alternatif lain, yaitu lubang ventilasi. Tempatkanlah extra fan di depan atau di atas ventilasi ini dengan arah menghisap (exhaust). Oleh karena di luar, maka fan 220VAC tampaknya lebih reasonable, karena kita tinggal menancapkannya pada stop kontak. Namun, kerugian fan model ini adalah bunyinya yang mengganggu. Oleh karena itu, pemasangannya harus baik (kokoh), sehingga casing tidak ikut bergetar karenanya. Salah satunya adalah dengan bantuan double-tape tebal di setiap tepinya.

Contoh Cooling Fan AC 220V

 

 

sumber  : http://tanyaalarm.blogspot.com

 

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: