RSS

Beberapa “Kesalahan” dalam Instalasi Multibeam

Beberapa “Kesalahan” dalam Instalasi Multi Beam

Beberapa waktu lalu seorang client menanyakan tentang bagaimana mengatasi false alarm yang sering terjadi pada instalasi sensor photoelectric beam. Pasalnya, walaupun berbagai cara sudah dilakukan, namun masalah ini tidak kunjung selesai. Selidik punya selidik, ternyata instalasi beam ini dilakukan dalam jumlah banyak dan di tempat yang tinggi pula. Inilah rupanya yang menyebabkan saat terjadi false alarm, maka analisanya menjadi kompleks. Nah, bagaimanakah caranya agar instalasi multi-beam kita benar-benar terkontrol, dalam arti seandainya dijumpai trouble, maka solusinya dapat segera ditemukan? Berikut ini kami turunkan beberapa “kesalahan” yang sering dilakukan seputar instalasi outdoor beam. Selamat mengikuti!

Kesalahan 1: Menyatukan Beberapa Beam ke Dalam Satu Zone
Sesungguhnya “kesalahan terbesar” dalam instalasi multi beam adalah menyatukan beberapa beam ke dalam satu zone. Kendati sah-sah saja, cuma dikemudian hari hal ini akan menyebabkan analisa false alarm menjadi sulit, karena kita tidak mengetahui pasti manakah diantara beam tersebut yang sering “bernyanyi”. Coba perhatikan ilustrasi di bawah ini.

Ilustrasi di atas menggambarkan dengan jelas, bahwasanya saat terjadi false alarm di Zone 1, maka kita tidak pernah tahu dari pasangan beam manakah hal itu berasal.  Mungkin di pasaran ada produk beam yang sudah dilengkapi dengan “first to alarm”, sehingga saat trigger, lampu merah pada unit akan tetap berkedip-kedip. Hanya saja feature ini tergolong jarang dimanfaatkan, sehingga cara yang paling benar adalah memisahkan setiap pasang beam ke dalam zone berbeda. Memang hal ini membawa konsekuensi pada bertambahnya kapasitas panel yang harus dipasang. Namun, menambah kapasitas panel -misalnya dari 8 menjadi 16 zone- masih terbilang worthy ketimbang bolak-balik ke lokasi hanya untuk menentukan beam mana yang bermasalah.

Kesalahan 2: Penyetelan yang Terburu-buru
“Kesalahan” lain yang seyogianya diantisipasi adalah soal penyetelan yang dilakukan terburu-buru atau pada saat hari mulai gelap. Hal ini akan memengaruhi reliabilitas beam, sehingga Receiver tidak menerima sinar secara “utuh”. Hindari menyetel beam pada saat hari mulai gelap (kecuali jika sudah sangat pengalaman!), karena kita tidak mengetahui pasti apakah beam lawan sudah masuk ke dalam “bidikan” kita atau belum. Perhatikanlah ilustrasi di bawah ini.

Kesulitan terbesar saat penyetelan (alignment) adalah menempatkan posisi beam lawan tepat berada di tengah-tengah view finder. Banyak faktor yang justru bisa membiaskan pandangan kita, misalnya: posisi badan (baca: kepala) saat menyetel, teriknya sinar matahari, banyaknya objek yang bergerak-gerak di sekitar beam, sampai dengan keringat yang masuk ke mata. Oleh sebab itulah, memasang beam di tempat-tempat tinggi memerlukan persiapan matang, sebab selain sulit dalam alignment juga nantinya akan sulit dalam maintenance ataupun mengganti unit seandainya rusak.  Jadi, pertimbangkanlah sekali lagi!

Kesalahan 3: Lupa dalam Menempatkan Interruption Time (Speed)
Fungsi interruption time adalah untuk memberikan kecepatan deteksi, agar bisa disesuaikan dengan kondisi di lokasi pemasangan. Kesalahan yang sering terjadi adalah lupa menurunkan speed pada instalasi beam di tempat tinggi, khususnya pagar tembok yang berbatasan dengan lahan kosong. Kendati hal ini tidak menimbulkan masalah dalam hal pendeteksian, namun berpotensi mengundang false alarm, misalnya oleh burung atau kelelawar yang melintasi beam. Lain halnya jika beam ditempatkan di halaman, maka speed-nya harus di-setting cepat seperti tampak pada gambar di bawah. Jadi, sebelum turun dari tangga, perhatikanlah hal ini dengan seksama.



Kesalahan 4: Mengira-ngira Jarak


“Kesalahan” ini lazim terjadi, kendati pada awalnya tampak biasa-biasa saja. Pada instalasi beam dengan jarak sangat jauh, mengira-ngira jarak bukanlah sesuatu yang baik, karena bisa saja terjadi estimation error dimana jarak sesungguhnya ternyata lebih panjang. Walau hanya terpaut beberapa centimeter saja, namun jika jarak maksimum beam sudah terlampaui, akibatnya sudah bisa diduga, bukan? Selain nantinya sulit dalam setting, juga dalam beberapa bulan ke depan masalah false alarm akan menghantui. Jadi, hindarilah kebiasaan (buruk) ini, karena untuk mengetahui jarak yang sesungguhnya kita bisa memakai meteran dorong ataupun melalui skala pada denah arsitektur.

Kesalahan 5: Tidak Menghitung Power
Ketahuilah bahwasanya kapasitas power akan memengaruhi performa sistem. Kapasitas power yang dimaksud adalah faktor ketersediaan arus, khususnya yang disuplai oleh panel alarm. Pada instalasi multi-beam, maka besarnya power yang diserap oleh setiap pasang beam mesti diketahui pasti. Jika total arus beam melebihi kapasitas panel, maka sudah barang tentu panel akan overload. Panel yang overload dapat menimbulkan problematika alarm yang cukup “mengerikan”. Pernahkah anda mengalami saat-saat dimana siren berbunyi, tetapi tidak bisa dimatikan dari keypad? Nah, boleh jadi hal ini disebabkan oleh panel yang overload. Tidakkah hal ini cukup mengerikan? Jadi, tidak ada salahnya jika kita menjumlahkan dulu arus total beam sebelum menganalisa lebih jauh kemungkinan lainnya.

Kesalahan 6: Memakai Kabel Telepon untuk Instalasi Beam Jarak Jauh
Pada instalasi dengan panjang kabel di atas 300m, maka pemakaian kabel telepon bukanlah pilihan yang bijak. Setidaknya hal ini akan menuai “kritik” dari orang-orang elektrik. Sejatinya kabel telepon tidak dirancang untuk menyalurkan sinyal kontak DC, melainkan sinyal DTMF untuk percakapan. Selain itu resistansi DC kabel ini pada jarak jauh terbilang besar, karena diameter rata-ratanya hanya berkisar 0.6mm saja. Dibandingkan dengan kabel listrik, contohnya dari jenis NYMHY ukuran 0.75mm, maka resistansi kabel listrik terbilang lebih rendah. Lantas, apa arti semua ini? Mudah saja! Pertimbangkanlah untuk memakai kabel listrik pada instalasi beam di pabrik-pabrik. Pasalnya kabel jenis ini lebih kuat dan tahan lama (tentunya dengan tetap memperhatikan kaidah instalasi yang benar, misalnya ditanam dalam pipa conduit). Satu-satunya kendala dalam realisasinya adalah soal budget, karena kabel listrik umumnya lebih mahal ketimbang kabel telepon. Namun, dibandingkan dengan resiko terjadinya instalasi ulang, manakah yang anda pilih?

Kesalahan 7: Menempatkan Beam Dalam Casing Metal
Bukan tanpa alasan jika customer menghendaki agar sensor ini tidak terlihat mencolok. Namun, menempatkan beam dalam casing metal yang ter-expose matahari langsung bukanlah ide yang baik. Apa sebab? Jangan lupa, bahwasanya musuh terbesar dari semua rangkaian elektronik adalah panas. Casing metal yang terkena terik matahari di siang hari tak ubahnya bagaikan oven. Bagaimana rasanya jika kita berada dalam mobil saat terik matahari tanpa menyalakan AC? Jadi, jika customer bersikukuh menghendaki agar beam di-kamuflase, carilah bahan non-metal, semisal plastik, fiber atau pipa PVC ukuran besar yang dibentuk sedemikian rupa.

Kesalahan 8: Tidak Memasang Kembali Karet atau Busa Penghalang pada Jalur Kabel Masuk
Pabrik telah menetapkan prosedur agar busa penghalang (sponge pad) dipasang kembali pada lubang jalur kabel yang masuk. Hal ini untuk mencegah masuknya semut dan hewan kecil lainnya ke dalam beam, sehingga mengakibatkan false alarm. Namun, seringkali busa ini tidak dipasang dengan alasan lepas atau hilang. Akibatnya, beam menjadi rumah yang nyaman bagi semut dan menyisakan “bom waktu” berupa false alarm.

 

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: