RSS

10 Penyebab Kegagalan Satu Proyek (Bagian-4)

10 Penyebab Kegagalan Satu Proyek (Bagian 4-Habis)

9. Minimnya Peralatan Penunjang 

Peralatan penunjang dalam satu proyek bisa dibagi dalam tiga kategori, yaitu:
1. Peralatan standar teknisi (tools kit).
2. Alat bantu utama, seperti tangga dan scaffolding.
3. Alat keselamatan kerja, semisal helmet, gloves, goggle dan boots.
Tidak dipungkiri lagi, bahwa minimnya peralatan merupakan kendala bagi keberhasilan satu proyek, termasuk instalasi Alarm dan camera CCTV di tempat-tempat yang tinggi. Di sini, kelancaran logistik menjadi penting, terlebih lagi di kota-kota besar dimana tingkat kemacetan lalu lintasnya sangat tinggi. Lancarnya pasokan peralatan penunjang diyakini menjadi penentu kinerja teknisi lapangan. Menunggu peralatan datang lebih melelahkan ketimbang pekerjaannya itu sendiri. Oleh sebab itu untuk urusan se-krusial ini seyogianya ditunjuk satu orang koordinator yang tugasnya khusus mengatur pengiriman logistik dan mengatur tempat penyimpanannya di lapangan. Ini memerlukan kecakapan khusus yang tidak setiap teknisi bisa melakukannya, sehingga tidak berlebihan kiranya jika kami menempatkannya sebagai faktor penentu keberhasilan proyek. Koordinator yang ditujuk bisa bersifat sementara (temporer), yaitu selama proyek berlangsung atau sudah merupakan bagian dari struktur organisasi perusahaan (vendor).
Peralatan penunjang standard tidak selalu harus mahal. Asalkan memenuhi kriteria minimal, maka ia merupakan aset teknisi yang berharga. Sebut saja mesin bor listrik (yang sering jadi rebutan teknisi!), maka menyediakan dua atau tiga mesin bor sekaligus nilainya masih terbilang “kecil” dibandingkan dengan kecepatan waktu yang didapat. Demikian pula dengan mata bor yang nilainya tidak seberapa dibandingkan dengan molor-nya proyek yang berujung pada penalty! Peralatan lain yang penting adalah tang pemotong kabel dan obeng, inipun nilainya tidak seberapa dibandingkan dengan total proyek. Kesimpulan kami, vendor sebaiknya jangan segan untuk mengeluarkan biaya extra untuk hal sekecil ini, karena akan berdampak luar biasa pada hasil akhir. Oleh sebab itulah, di sini fungsi seorang koordinator lapangan menjadi teramat penting.
10. Lemahnya Pengawasan dan Pencatatan Progres Pekerjaan

Penyebab terakhir adalah lemahnya pengawasan dan pencatatan mengenai progres pekerjaan. Ini biasa terjadi pada vendor baru dengan jumlah SDM yang minim. Akibatnya, satu orang memegang jabatan rangkap, bisa dua bahkan tiga, yaitu sebagai teknisi, supervisor sekaligus juga sebagai koordinator. Fenomena one man show ini menyebabkan lemahnya kendali di lapangan, sebab bagaimana mungkin pekerjaan yang sifatnya berbeda bisa dilakukan oleh satu orang? Tugas Teknisi (installer) adalah menarik kabel dan memasang unit, tugas Supervisor adalah memastikan agar teknisi bekerja sesuai dengan desain, sedangkan Koordinator bertanggungjawab atas kelancaran peralatan dan material penunjang. Sedikit sekali orang yang bisa melakukan three in one ini sekaligus, sehingga tidak heran jika kami memasukkannya ke dalam faktor penyebab kegagalan satu proyek. Saran kami, fokuskanlah setiap pekerjaan kepada satu orang yang benar-benar cakap dalam melaksanakannya.

Penutup
Apa yang telah kami paparkan di atas, semuanya merupakan fenomena yang bisa menimpa siapa saja, baik vendor skala besar, menengah maupun kecil. Perbedaannya hanya terletak pada point mana dan dengan intensitas yang bagaimana. Jika kita menginginkan proyek instalasi Alarm dan CCTV kita berakhir baik, maka seyogianyalah ke-10 faktor tersebut diwaspadai sejak awal. Walaupun umpamanya saja dari yang sepuluh itu, hanya ada satu aspek yang menimpa, maka “sinyal-sinyal kegagalan” sudah ada di depan mata. Believe it or not?
 

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: